GURU YANG ALLAH PILIH

GURU YANG ALLAH PILIH

Oleh: Imam Khoiri, S.Ag., M.E. (Sekretaris Yayasan SPA Indonesia)

Pernahkah kita berhenti sejenak lalu bertanya kepada diri sendiri, mengapa Allah memilih saya menjadi guru? Mengapa bukan menjadi pedagang, dokter, arsitek, pengusaha, atau pejabat? Mengapa justru berdiri setiap hari di depan anak-anak? Sebagian orang menjawab, “Karena saya lulus pendidikan keguruan.” Sebagian lagi berkata, “Karena memang ada lowongan pekerjaan.”

Jawaban itu benar. Namun bagi seorang mukmin, semua itu hanyalah sebab. Di balik setiap sebab, ada kehendak Allah yang bekerja. Tidak ada satu pun peristiwa dalam hidup yang berlangsung tanpa pilihan-Nya. Tidak ada satu pun amanah yang diberikan secara kebetulan. Allah berfirman,
وَرَبُّكَ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ وَيَخْتَارُ ۗ مَا كَانَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ
Dan Tuhanmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilihnya. Sekali-kali tidak ada pilihan bagi mereka.” (QS. Al-Qashash: 68)

Allah bukan hanya menciptakan manusia. Allah juga memilih di mana setiap hamba akan mengabdi. Ada yang Allah pilih mengobati tubuh manusia, ada yang Allah pilih menjaga keamanan negeri, ada yang Allah pilih membangun peradaban melalui ilmu. Itulah para guru.

Betapa agung pilihan itu. Ibn ‘Athaillah As-Sakandari mengingatkan,
إذا أقامك في الأسباب فلا تقف مع الأسباب، وانظر إلى مُقيمِك فيها.
Apabila Allah menempatkanmu pada suatu sebab (kedudukan atau keadaan), janganlah engkau hanya memandang sebab itu, tetapi pandanglah Dzat yang menempatkanmu di sana.”

Karena itu, jangan pernah berkata, “Aku hanya seorang guru.” Kalimat itu terlalu rendah untuk menggambarkan amanah yang Allah titipkan. Guru bukan sekadar profesi. Guru adalah pilihan Allah. Guru adalah jalan pengabdian yang Allah bukakan. Guru adalah orang yang Allah pilih untuk menanam benih iman, ilmu, akhlak, dan harapan dalam jiwa generasi yang akan datang.

Setiap pagi ketika guru kita melangkah menuju sekolah, sesungguhnya kita sedang memenuhi panggilan Allah. Setiap kali membuka pelajaran, kita sedang membuka pintu masa depan. Setiap kali membimbing seorang murid yang kesulitan, kita sedang menolong orang yang mungkin suatu hari dia akan menolong ribuan kehidupan lainnya.

Imam Ibnul Jauzi berkata,
من عرف شرف الزمان والمكان الذي أقامه الله فيه، استحيا أن يضيع لحظةً في غير طاعته.
Barang siapa mengetahui kemuliaan waktu dan tempat yang Allah tempatkan baginya, ia akan malu menyia-nyiakan sesaat pun selain dalam ketaatan kepada-Nya.

Maka pertanyaan yang seharusnya kita renungkan bukanlah, “Mengapa saya menjadi guru?” Tetapi, “Sudahkah aku menjalankan amanah Allah sebagai guru dengan sebaik-baiknya?”

Rasulullah bersabda,
إِنَّ اللَّهَ إِذَا أَرَادَ بِأَهْلِ بَيْتٍ خَيْرًا اسْتَعْمَلَهُمْ
Jika Allah menghendaki seseorang kebaikan, maka Dia akan mempekerjakannya.
Para sahabat bertanya, “Bagaimana Allah memperkerjakan mereka?” Beliau menjawab,
يُوَفِّقُهُمْ لِعَمَلٍ صَالِحٍ قَبْلَ الْمَوْتِ
Allah memberi mereka taufik untuk melakukan amal saleh sebelum wafat.” (HR. Ahmad, dinilai hasan oleh sebagian ulama.)

Perhatikan kata yang digunakan Rasulullah ﷺ, “ista’malahum”—Allah memperkerjakan mereka. Jika Allah memakai seseorang untuk mengerjakan kebaikan, itu adalah tanda bahwa Allah menghendaki kebaikan baginya. Maka ketika Allah mempercayakan kita mendidik anak-anak, sesungguhnya Allah sedang memakai kita untuk sebuah pekerjaan besar, yakni membangun masa depan umat.

Boleh jadi kita tidak pernah dikenal dunia. Nama kita tidak masuk berita. Tidak memiliki jabatan tinggi. Tidak hidup bergelimang harta. Namun setiap huruf Al-Qur’an yang diajarkan, setiap akhlak mulia yang ditanamkan, setiap semangat yang dibangkitkan, setiap air mata murid yang kita usap, semuanya dicatat oleh Allah sebagai amal yang terus mengalir.

Kelak, mungkin ada diantara mereka yang menjadi ulama, pemimpin yang adil, ilmuwan yang bermanfaat, atau orang tua saleh yang melahirkan generasi-generasi hebat. Di balik semua itu, ada doa seorang guru yang tidak pernah terdengar, ada kesabaran yang tak henti, ada keikhlasan yang hanya diketahui oleh Allah.

Karena itu, jangan pernah menganggap sekolah hanya sebagai tempat bekerja. Jadikan sekolah sebagai ladang amal. Lihatlah ruang kelas sebagai mihrab perjuangan. Lihatlah papan tulis sebagai lembar dakwah. Lihatlah setiap murid sebagai amanah yang kelak akan menjadi saksi di hadapan Allah, bahwa kita telah mendidiknya dengan cinta, ilmu, dan keteladanan.

Jangan biarkan rutinitas mematikan idealisme. Jangan biarkan kelelahan mengalahkan keikhlasan. Jangan biarkan administrasi membuat kita lupa bahwa tugas terbesar seorang guru bukan mengisi lembar administrasi, melainkan mengisi hati manusia dengan ilmu.

Maka datanglah ke sekolah dengan hati yang penuh syukur. Berdirilah di depan kelas dengan tegak. Tebarkan senyum kepada murid-murid. Ajarlah mereka dengan sepenuh hati. Berdoalah untuk mereka, karena boleh jadi doa itu kembali kepada diri kita sebagai keberkahan yang tidak pernah disangka.

Hari ini kita mungkin mengajar di ruang kelas yang sederhana. Tetapi sesungguhnya kita sedang menulis sejarah masa depan. Sebab seorang guru yang ikhlas tidak hanya menulis nilai rapor tapi sedang mengubah arah kehidupan. Dan itulah perjuangan yang dipilihkan Allah bagi orang-orang yang dicintai-Nya. (Yogyakarta, 23 Juli 2026) [ed:DA]

 

× Kirim Pesan