MENGAPA KITA MENJADI GURU?

MENGAPA KITA MENJADI GURU?

Meluruskan Kembali Arah Perjalanan

Penulis: Imam Khoiri, S.Ag., M.E. (Sekretaris Yayasan SPA Indonesia)

Setiap pagi seorang guru melangkah menuju sekolah. Langkah itu tampak sama seperti kemarin. Memasuki ruang guru, menyiapkan pembelajaran, lalu berdiri di depan kelas. Rutinitas itu berulang hari demi hari. Namun di sisi Allah, langkah setiap orang belum tentu bernilai sama.

Ada guru yang berjalan menuju sekolah, tetapi sesungguhnya sedang berjalan menuju ridha Allah. Ada pula yang menempuh jalan yang sama, memasuki ruang kelas yang sama, mengajar mata pelajaran yang sama, namun hakikatnya hanya sebatas menjalankan rutinitas. Perbedaannya bukan pada jalannya, bukan pada sekolahnya, bukan pula pada banyaknya aktivitas yang dilakukan, melainkan pada arah hatinya.

Allah Ta’ala berfirman,
وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ
Padahal mereka tidak diperintah kecuali agar beribadah kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya.” (QS. Al-Bayyinah: 5)

Ayat ini tidak hanya berbicara tentang shalat, puasa, atau zakat. Seluruh kehidupan seorang mukmin adalah ladang ibadah apabila diniatkan untuk Allah. Karena itu, mengajar bukan sekadar profesi, melainkan dapat menjadi ibadah yang agung apabila hati tidak berpaling kepada selain-Nya. Sebaliknya, apabila amal dilakukan demi pujian, kedudukan, atau sekadar menggugurkan kewajiban, maka yang tersisa hanyalah lelah. Aktivitasnya tetap tercatat sebagai pekerjaan, tetapi belum tentu bernilai ibadah di sisi Allah.

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,
الأعمالُ بغيرِ إخلاصٍ كالمسافرِ يملأُ جرابَه رملًا يُثقِلُه ولا ينفعُه
Amal tanpa keikhlasan seperti seorang musafir yang memenuhi kantongnya dengan pasir; hanya memberatkannya, tetapi tidak memberinya manfaat.”

Seorang musafir mengira bekalnya banyak. Ia memikul karung yang berat sepanjang perjalanan. Namun ketika tiba di tujuan, ternyata yang dibawanya hanyalah pasir. Berat dipikul, tetapi tidak dapat dimakan, tidak dapat diminum, dan tidak dapat menyelamatkannya.

Demikian pula aktivitas seorang guru. Menyusun administrasi, menyiapkan perangkat ajar, mendampingi murid, menghadiri rapat, menyelesaikan penilaian, mengikuti pelatihan, mengisi berbagai laporan—semuanya menguras tenaga dan waktu. Semua itu dapat berakhir pada dua kemungkinan. Ia hanya menjadi beban yang melelahkan, atau berubah menjadi amal ibadah yang mengangkat derajat hingga ke surga. Yang membedakannya adalah niatnya.

Rasulullah ﷺ bersabda,
إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى
Sesungguhnya setiap amal bergantung kepada niatnya, dan setiap orang akan memperoleh sesuai dengan apa yang diniatkannya.” (Muttafaq ‘alaih)

Sayangnya, hati manusia sangat mudah bergeser. Pada awal menjadi guru, mungkin kita berkata, “Aku ingin mendidik generasi Islam. Aku ingin menjadi jalan lahirnya anak-anak yang saleh.” Namun perlahan bisikan-bisikan lain mulai datang. “Mengapa jerih payahku tidak dihargai?”
“Mengapa orang lain lebih dipuji?” “Mengapa aku bekerja lebih banyak, tetapi penghargaan justru diberikan kepada yang lain?” Di sinilah ujian yang sesungguhnya dimulai.

Sufyan ats-Tsauri rahimahullah pernah berkata,
ما عالجت شيئًا أشد عليَّ من نيتي؛ لأنها تتقلب عليَّ
Tidak ada sesuatu yang lebih berat aku perbaiki daripada niatku, karena ia selalu berubah-ubah.

Jika seorang imam besar seperti Sufyan ats-Tsauri saja mengakui betapa sulit menjaga niat, apalagi kita. Karena itu, meluruskan niat tidak cukup dilakukan sekali, saat pertama kali diangkat menjadi guru atau ketika menandatangani surat kesanggupan mengabdi. Niat harus diperbarui setiap hari, bahkan berkali-kali dalam sehari. Sebelum tangan membuka pintu kelas, bukalah terlebih dahulu pintu hati. Sebelum menyebut nama murid, sebutlah nama Allah. Sebelum menyampaikan ilmu, hadirkan kesadaran bahwa Allah sedang menyaksikan setiap kata yang keluar dari lisan kita.

Diriwayatkan dari Abdullah bin al-Mubarak, dari sebagian ulama salaf,
رُبَّ عَمَلٍ صَغِيرٍ تُعَظِّمُهُ النِّيَّةُ، وَرُبَّ عَمَلٍ كَبِيرٍ تُصَغِّرُهُ النِّيَّةُ
Betapa banyak amal yang tampak kecil menjadi besar karena niat. Dan betapa banyak amal yang tampak besar menjadi kecil karena niat.”

Satu jam pelajaran yang dijalani dengan hati yang ikhlas boleh jadi lebih berat di timbangan Allah daripada bertahun-tahun aktivitas yang dipenuhi keinginan dipuji manusia. Boleh jadi, dari keikhlasan kita, lahir seorang penghafal Al-Qur’an. Barangkali dari satu nasihat sederhana lahir seorang dai yang menerangi umat. Barangkali dari satu senyum tulus seorang guru tumbuh kembali semangat seorang anak yang hampir menyerah pada hidupnya.

Kapan semua itu akan terwujud? Kita tidak pernah tahu. Karena yang mengubah hati manusia bukanlah kepandaian guru, melainkan kekuasaan Allah. Allah berfirman,
لَيْسَ عَلَيْكَ هُدَاهُمْ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ
Bukanlah kewajibanmu menjadikan mereka mendapat petunjuk, tetapi Allah-lah yang memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki.” (QS. Al-Baqarah: 272)

Ayat ini adalah penghibur bagi setiap pendidik. Tugas kita bukan menghadirkan hidayah. Tugas kita hanyalah mengetuk pintu hati melalui ilmu, kasih sayang, doa, kesabaran, dan keteladanan. Adapun yang membuka pintu itu hanyalah Allah. Karena itu, jangan pernah merasa gagal hanya karena hasil belum tampak. Kemuliaan seorang guru bukan karena semua murid berubah. Kemuliaannya adalah ketika ia tetap mengajar dengan penuh cinta, tetap mendoakan murid-muridnya, tetap menjadi teladan, meskipun perubahan belum terlihat oleh matanya.

Rasulullah ﷺ memberikan kabar gembira kepada orang yang mengajarkan kebaikan.
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ وَأَهْلَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ، حَتَّى النَّمْلَةَ فِي جُحْرِهَا، وَحَتَّى الْحُوتَ، لَيُصَلُّونَ عَلَى مُعَلِّمِ النَّاسِ الْخَيْرَ
Sesungguhnya Allah, para malaikat-Nya, penduduk langit dan bumi, hingga semut di lubangnya dan ikan di lautan, benar-benar mendoakan orang yang mengajarkan kebaikan kepada manusia.” (HR. at-Tirmidzi)

Betapa agung kedudukan seorang guru. Mungkin di dunia kita hanya menerima sedikit penghargaan. Bahkan mungkin tidak ada tepuk tangan, tidak ada ucapan terima kasih, tidak ada penghormatan yang istimewa. Namun siapa sangka, ketika manusia melupakan nama kita, penduduk langit justru mengenalnya. Ketika tidak ada yang mengucapkan terima kasih, para malaikat mendoakan kita. Ketika jerih payah kita tidak tercatat dalam penghargaan dunia, Allah sendiri yang mencatatnya sebagai amal yang terus mengalir pahalanya.

Penghargaan manusia akan berhenti ketika kita pensiun. Namun apabila Allah menerima amal itu, pahalanya akan terus mengalir, bahkan ketika kita telah meninggalkan dunia. Selama ilmu itu diamalkan, selama akhlak itu diwariskan, selama satu huruf yang kita ajarkan menjadi jalan hidayah bagi orang lain, selama itu pula catatan amal kita terus bertambah.

Sebelum memasuki kelas, cobalah diam sejenak, lalu katakan dalam hati:
“Ya Allah, aku datang bukan untuk mencari pujian manusia. Aku datang memenuhi panggilan-Mu. Jadikan setiap langkahku menuju sekolah sebagai langkah menuju ridha-Mu. Jadikan setiap huruf yang keluar dari lisanku sebagai cahaya bagi murid-muridku, penuntun bagi hati mereka, dan sebagai saksi yang meringankan hisabku pada hari ketika tidak ada lagi manfaat harta, jabatan, ataupun pujian manusia. Terimalah pengabdianku sebagai ibadah hanya kepada-Mu.” [ed:DA]

 

× Kirim Pesan