JADILAH SEPERTI LEBAH

https://www.istockphoto.com/id/foto/lebah-pekerja-keras-pada-sarang-lebah-gm537486915-53606900?phrase=bee%2Band%2Bhoney%2Bcomb

JADILAH SEPERTI LEBAH

Penulis: Imam Khoiri (Sekretaris Yayasan SPA Indonesia)

Mukmin adalah manusia unggul. Sifat unggul ini yang menjadikannya istimewa. Kehidupan ini agar menjadi indah, membutuhkan manusia-manusia unggul seperti itu. Sifat unggul itu diantaranya Rasulullah gambarkan pada seekor lebah. Dalam Musnad Imam Ahmad, disebutkan hadist riwayat Abdullah Ibn Umar, Rasulullah bersabda:

وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ إِنَّ مَثَلَ الْمُؤْمِنِ لَكَمَثَلِ النَّحْلَةِ أَكَلَتْ طَيِّبًا وَوَضَعَتْ طَيِّبًا وَوَقَعَتْ فَلَمْ تَكْسِر ولم تُفْسِدْ

Demi Allah. Manusia mukmin itu laksana lebah. Ia makan hanya yang thayyib, mengeluarkan sesuatu yang baik, bila hinggap di atas ranting pohon ia tidak mematahkan dan merusaknya.” (H.R. Ahmad, No 18121)

Siapa yang tidak kenal lebah? Lebah diabadikan dalam Al-Qur’an, menjadi nama surat yaitu An-Nahl. Dengan perumpaman itu, Rasulullah mengisyaratkan agar kita meniru sifat-sifat unggul yang dimiliki lebah. 

Pertama, keunggulan seorang mukmin dilihat dari makanan dan minumannya. Seperti lebah yang selalu memakan sari bunga terbaik, seorang mukmin hanya memilih dan makan makanan yang halal dan tayyib. Dia meninggalkan sesuatu yang haram. Ketika seseorang telah naik pada kualitas wira’i, dia menghindari sesuatu yang syubhat, bahkan meninggalkan sesuatu yang halal karena takut terjerumus ke dalam yang haram.

Kedua, keunggulan seorang mukmin diukur dari produktifitas kebaikan yang dia berikan, seperti lebah yang mengeluarkan madu. Madu, dengan ragam warna dan rasanya, memiliki khasiat bagi kesehatan, menjadi obat bagi orang sakit. Lebah juga menghasilkan senyawa propolis yang berasal dari liurnya. Sarang lebah berkhasiat untuk penyembuhan luka dan bahan kosmetik. Beepollen, serbuk sari tumbuhan yang disimpan di kantung kaki lebah mengandung anti oksidan yang tinggi. Royal jelly, makanan ratu lebah yang dibuat oleh lebah pekerja, berkhasiat menambah daya tahan tubuh.

Seorang mukmin adalah orang yang produktif dengan kebaikan. Di mana pun, ke mana pun, apa pun yang dilakukan, peran dan tugas apa pun yang diemban, kehidupan seorang mukmin selalu membawa manfaat dan maslahat. Kemanfaatan inilah yang menjadi puncak kualitas diri seseorang, sebagaimana sabda Rasulullah:

خَيْرُ الناسِ أَنْفَعُهُمْ لِلناسِ

“Dan sebaik-baik manusia adalah orang yang paling bermanfaat bagi manusia.” (HR. Thabrani dan Daruquthni, dari sahabat Jabir bin Abdullah).

Ketiga, keunggulan seorang mukmin dilihat dari dampak kehadiran dirinya yang tidak menimbulkan dampak negatif, seperti lebah ketika hinggap tidak akan membuat kerusakan. Lebah tidak pernah mematahkan ranting yang dia hinggapi. Saat ia bersarang di tempat manapun, lebah tidak akan menimbulkan kerusakan. Sarangnya kuat dan sempurna, baik dari segi bentuk maupun kerapatan sehingga tidak ada lubang. Lebah bisa menempuh jalan, melewati darat, lembah, maupun pegunungan, dan ia kembali ke sarang tanpa tersesat. Lebah sangat jauh berbeda dengan lalat, yang doyan hinggap di tempat yang kotor dan bau. Lalat amat mudah ditemui di tempat sampah, kotoran, dan tempat-tempat busuk. Lalat membawa bibit penyakit dan kuman. Seorang mukmin, di manapun berada, selalu membawa perbaikan dengan berdakwah. Seorang mukmin adalah pejuang dakwah. Dalam dirinya tertanam semangat mengubah keburukan menjadi kebaikan.

Keempat, keunggulan seorang mukmin dilihat dari kebersaman dan semangat ukhuwahnya, seperti lebah yang selalu hidup dalam koloni besar, tidak menyendiri. Lebah bekerja secara kolektif. Masing-masing mempunyai tugas sendiri. Ketika mereka menemukan sumber madu, mereka akan memanggil teman-temannya. Ketika ada bahaya, lebah akan mengeluarkan zat feromon untuk mengudang teman-temannya agar membantu dirinya. Itulah seharusnya sikap orang-orang beriman.

Kelima, keunggulan seorang mukmin dinilai dari kerja kerasnya, seperti lebah. Ketika pertama kali muncul dari biliknya saat menetas, lebah pekerja akan membersihkan bilik sarangnya untuk telur baru. Setelah lebah berumur tiga hari, ia memberi makan larva, dengan membawakan serbuk sari madu. Begitulah, hari-harinya penuh semangat berkarya dan beramal. Bukankah Allah pun memerintahkan umat mukmin untuk bekerja keras? “Apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain.” (Al-Insyorah: 7)

Keenam, keunggulan seorang mukmin dinilai dari harga dirinya, seperti lebah yang tidak menyerang dan melukai kecuali jika diganggu. Namun sekali diserang, ia akan mempertahankan “kehormatan”, bahkan rela mati dengan melepas sengatnya. Bagi seorang mukmin, musuh tidak dicari, tetapi jika musuh datang, pantang untuk berlari. [ed:DA]

 

× Kirim Pesan